refleksi


Dalam hidup pasti kita pasti kerap kali memiliki segenap pertanyaan semisal; Mengapa Allah menciptakan manusia lengkap dengan segala kebahagiaan, kesulitan, kesedihan serta permasalahannya? Atau, Mengapa manusia harus menjalani dan mencari sesuatu yang memang sudah di tetapkan, padahal hal itu sudah pasti terjadi?

Sah-sah saja kita mengajukan berbagai pertanyaan tentang hidup ini, karna memulai dari mengajukan pertanyaanlah sebuah proses mendapat hikmah terjadi.

Dalam proses menemukan jawaban pun membutuhkan waktu. Karna jawaban-jawaban tesebut lebih kepada kepuasan hati (pemahaman) sehingga lebih dekat kepada “hikmah”.

Saya tidak akan mengklaim bahwa jawaban yang akan saya ajukan adalah benar, karna pertanyaan filosofis semisal di atas, jawabannya juga merupakan sebuah konsep filosofis.

Untuk yang pertama misal, Mengapa Allah menciptakan manusia lengkap dengan segala kebahagiaan, kesulitan, kesedihan serta permasalahannya?
Ini sebuah pengalaman pribadi saya yang mungkin mirip pendekatan jawabannya. Dulu di SMA guru biologi saya menerangkan bahwa daging babi itu mengandung cacing pita dan secara genetis mirip dengan gen kita manusia. Sehingga apabila daging babi dikonsumsi akan menimbulkan dampak buruk kesehatan (karna kandungan cacing pita) serta kecacatan genetis (karna kemiripan gen).

Lalu guru saya melanjutkan; “inilah mengapa Islam mengharamkan daging babi!.”
Semula saya sependapat dengan hal tersebut, namun sontak muncul pertanyaan dari kepala saya: “Bagaimana jika kelak di suatu saat ada sebuah penemuan obat yang dapat menghilangkan kandungan cacing pita dalam daging babi dan sekaligus menghilangkan efek genetik akibat mengkonsumsi daging babi? Apa hukum memakan daging babi tersebut berubah menjadi halal atau bagaimana setelah ditemukan obat tersebut?
Ada sebuah prinsip yang telah kita lupakan yakni Allah lah yang telah menetapkan apa-apa yang telah ada di dalam Al-Qur’an.

Jadi seharusnya perkara keharaman babi bukan karna cacing pitanya atau juga struktru gen, namun sudah jadi kehendak Allah seperti itu. Tentang apa alasan Allah mengharamkan babi, sama halnya mengapa Allah menghalalkan daging sapi, kambing, kuda, unta dsb untuk dikonsumsi oleh manusia?

Tentunya ditetapkannya suatu perkara itu halal atau haram merupakan cara Allah dalam menguji hamba-hamba-Nya. Siapa-siapa yang taat pada aturan-Nya dan siapa-siapa yang ingkar dari perintah-NYa. Bukankah tidaklah suatu dikatakan beriman sebulum mendapat ujian dari Allah?
Jadi bisa kita asumsikan sama alasan Allah menciptakan manusia lengkap dengan segala kebahagiaan, kesulitan, kesedihan serta permasalahannya adalah hak preogratif Allah yah itu pun sebagi ujian bagi manusia. Karna sedih, senang, penderitaan dsb merupakan “keadaan” yang merupakan bagian dari hasil perbuatan manusia sendiri. Mungkin hal ini akan berhubungan ke contoh pertanyaan yang ke dua.

Mengapa manusia harus menjalani dan mencari sesuatu yang memang sudah di tetapkan, padahal hal itu sudah pasti terjadi? Hal ini mirip dengan perseteruan kelompok umat muslim tentang hal ini. Golongan pertama disebut “Mutazilah” mereka berkeyakinan bahwa; segala sesuatu itu adalah merupakan kehendak hokum alam. Manusialah yang menentukan segala yang ada baik untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya. Pemikiran mereka kebablasan melewati akidahnya, sampai-sampai Al-Qur’an sendiri mereka tetapkan sebagai makhluk yang derajatnya dibawah manusia.

Kelompok yang kedua adalah “Jabariyah” dengan paham fatalisnya. Paham fatalis merupakan paham menyerahkan segala sesuatu kepada Allah. Manusia tidak punya kebebasan sedikitpun. Manusia menjadi muslim, kafir, kaya, miskin dst merupakan bagian sekenario dari Allah.
Jadi secara sederhana Mutazilah itu berorientasi pada “kehendak manusia” sedang Jabariyah orientasinya “kehendak Tuhan”.

Untuk membahas mendetail ha tersebut silahkan membaca kitab Qada dan Qadar karya Imam Muhammad al-Utsaimin atau bisa juga kitab Al-Ihya karya Imam Ghazali. Di sini mungkin saya hanya mencoba menyampaikan kesimpulannya saja.

Di dalam kitab Qada dan Qadar, Imam Muhammad al-Utsaimin menyanggah pandangan Jabariyah dengan mengatakan “Sebuah kejaliman mengatakan Allah menyiksa orang berbuat maksiat yang perbuatan masiat tersebut terjadi bukan dengan kehendak dirinya. Pendapat ini bertentangan dengan:
Dan yang menyertai dia berkata : ” Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku.” Allah berfirman :” Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat .” Yang menyertai dia[1413] berkata (pula): “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.” Allah berfirman : “Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu.” Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku (Qaff 23-29)

Selanjutnya bantahan untuk pandangan Mutazilah, bagaimana mungkin mereka mengelak kehendak Allah SWT atas setiap kejadian.
(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam (At-Takwir 28-29)

Untuk amannya dari pengaruh kedua paham di atas, berpeganglah pada pemahaman Sunah wal-Jama’ah. Jangan menyusahkan diri ke dalam perdebatan non-produktif. Sebagai hamba kita hanya diperintahkan untuk melakukan yang terbaik dan hasil merupakan kehendak Allah. Atau secara sederhana bagaimana cara menyamakan kehendak kita dengan kehendak Allah.

Semoga bermanfaat,
Sanusi Ahmad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: