jihad: melawan pelaku maksiat


Sebenci-bencinya saya terhadap wanita-wanita muslim yang berdandan ibarat pelacur namun marah jika disamakan dengan pelacur, saya lebih benci lagi kepada tokoh-tokoh yang mengkampanyekan pemikiran menyimpang.

Bukan apa-apa amar ma’ruf nahi munkar itu tidak boleh pandang bulu. Jangan karna, mereka itu orang organisasi terbesar, dari Partai, cendekiawan sehingga wacana-wacana pemikiran nyeleneh itu diabaikan. Menjadi pelacur jelas bukan profesi dan itu dosa besar, namun pemikiran yang membela, memprovokasi pelacuran itu jelas lebih besar lagi dosanya.

Dalam kitabnya, Ihya’ Ulumuddin, Imam al-Ghazali menekankan, bahwa ativitas “amar ma’ruf dan nahi munkar” adalah kutub terbesar dalam urusan agama. Ia adalah sesuatu yang penting, dan karena misi itulah, maka Allah mengutus para nabi. Jika aktivitas ‘amar ma’ruf nahi munkar’ hilang, maka syiar kenabian hilang, agama menjadi rusak, kesesatan tersebar, kebodohan akan merajelela, satu negeri akan binasa. Begitu juga umat secara keseluruhan.

Di dalam hadist Rasulullah saw juga dikatakan: “Tidaklah dari satu kaum berbuat maksiat, dan diantara mereka ada orang yang mampu untuk melawannya, tetapi dia tidak berbuat itu, melainkan hampir-hampir Allah meratakan mereka dengan azab dari sisi-Nya.” (HR Abu Dawud, at-Turmudzi, dan Ibnu Majah).

Dulu ada sebuah buku kontroversi berjudul “Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur” yang ditulis mahasiswi sebuah kampus Islam di Yogyakarta. Tapi saya lupa nama pengarangnya. Namun jika membaca buku ini sungguh membuat dahi mengkerut.

Buku itu memberikan legitimasi terhadap pelacuran dan seks bebas. Buku seperti ini membawa misi pengaburan antara yang haq dan yang bathil. Ironinya, ketika dibedah di kampusnya, banyak sekali mahasiswa yang mendukungnya. Buku-buku, tulisan-tulisan, atau ucapan-ucapan yang keliru yang disebarkan melalui media massa juga merupakan kemunkaran yang besar, lebih dari kemunkaran amal. Pornografi adalah munkar. Tetapi, pemikiran yang menyatakan, bahwa pornografi adalah tindakan mulia, merupakan kemunkaran yang lebih besar.

Tidak kalah dengan itu, Dr. Siti Mulia Masdah mengkampanyekan perjinahan seperti homoseksualisme , lesbianism dan nikah beda agama. Ia adalah garda terdepan menentang RUU APP kala itu.

Sebenarnya tidak aneh melihat gelagat cendikiawan liberal membela mati-matian perilaku seks jinah karna ada kedekatan pemahaman di antara keduannya, yang satu melihat Islam secara liberal dan yang satunya lagi seks secara liberal. Hal ini lah yang coba diramu oleh Sumanto Al-Qurthuby dalam Islam Progresif yang membela mati-matian bahwa perilaku seks itu prilaku normal. Yang dilarang agama bukan seks bebasnya namun perbuatan menyakiti patner seks seperti pemerkosaan dan poligami. Ini contoh nyata bahwa akidah liberal itu bertolak belakang dengan pemahaman sunah wal jama’ah.

Sekarang tinggal tugas para aktifis dakwah untuk menstrilkan lingkungannya dari pengaruh tersebut. Jangan hanya dakwah pengembangan “recruitment” saja. Dakwah itu tidak harus dengan mendebat di forum diskusi, menulis buku sanggahan atau sejenisnya. Anda bisa melakukan mem-vaksin dari hal paling terdekat.

Sanusi Ahmad

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: