Renungan Kejujuran

Berikut ini beberapa renungan seputar kejujuran, kami memandang penting untuk disampaikan agar ia menjadi jalan hidup orang-orang yang jujur dan perilaku orang-orang beriman. Betapa butuhnya kita untuk merenung-kan aib diri kita, serta kekurangan kita dalam hal kejujuran ini. Sisi kejujuran yang begitu penting telah menjadi fenomena kelemahan manusia di masa ini, sehingga telah tersebar di kalangan mereka lawan dari sikap jujur (dusta). Maka saya (penulis) dengan rasa senang hati menyusun tulisan ini -atas izin Allah – agar menjadi bahan renungan untuk kita semua.

Alangkah bagusnya ungkapan yang menggambarkan tentang kejujuran, sebagaimana bait berikut:
Kejujuran adalah satu keharusan atasmu
Walaupun dirimu terbakar oleh panasnya janji
Carilah olehmu keridhaan al-Maula
Celakalah orang yang membuat murka Allah dan mencari ridho manusia


Renungan Pertama (Tentang Definisi)

Kejujuran adalah lawan dari dusta dan ia memiliki arti kecocokan sesuatu sebagaimana dengan fakta. Di antaranya yaitu kata “rajulun shaduq (sangat jujur)”, yang lebih mendalam maknanya daripada shadiq (jujur). Al-mushaddiq yakni orang yang membenarkan setiap ucapanmu, sedang ash-shiddiq ialah orang yang terus menerus membenar-kan ucapan orang, dan bisa juga orang yang selalu membuktikan ucapannya dengan perbuatan. Di dalam al-Qur’an disebutkan (tentang ibu Nabi Isa), “Dan ibunya adalah seorang”shiddiqah.” (Al-Maidah: 75). Maksudnya ialah orang yang selalu berbuat jujur. (Lisanul Arab 10/193-194)

Kejujuran merupakan simbol Islam dan neraca keimanan, pondasi agama, dan menjadi tanda kesempurnaan orang yang memiliki sifat ini. Ia menempati kedudukan yang tinggi di dalam agama dan dalam urusan dunia. Dengan kejujuran akan terpilah orang yang beriman dan orang munafik, terpilih penghuni surga dari penduduk neraka. Dengannya seorang hamba akan dapat meraih kedudukan al-Abrar (orang baik), dan dengannya akan men-dapatkan keselamatan dari api neraka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disifati dengan ash-shadiqul amin (jujur dan terpercaya) , dan sifat ini telah diketahui oleh orang Quraisy sebelum beliau diutus menjadi rasul. Demikian pula Nabi Yusuf ’alaihis salam juga disifati dengannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,
(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru),”Yusuf, hai orang yang amat dipercaya.” (QS.Yusuf:46)

Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga mendapatkan julukan ini (ash-shiddiq). Ini semua menunjukkan hawa kejujuran merupakan salah satu perilaku kehidupan terpenting para rasul dan pengikut mereka. Dan kedudukan tertinggi sifat jujur adalah “ash-shiddiqiyah” Yakni tunduk terhadap rasul secara utuh (lahir batin) dan diiringi keikhlasan secara sempurna kepada Pengutus-Nya (Allah subhanahu wata’ala).

Imam Ibnu Katsir berkata, “Jujur merupakan karakter yang sangat terpuji, oleh karena itu sebagian besar shahabat tidak pernah coba-coba melakukan kedustaan baik pada masa jahiliyah maupun setelah masuk Islam. Kejujuran merupakan ciri keimanan, sebagaimana pula dusta adalah ciri kemunafikan, maka barang siapa jujur dia akan beruntung. (Tafsir Ibnu Katsir 3/643)

Renungan ke Dua (Al-Qur’an dan Kejujuran)

Al-Qur’an menyebutkan sifat jujur dalam banyak ayat serta menganjurkan kepada kejujuran, dan bahwa ia merupakan buah dari ikhlas dan takwa. Di antara ayat-ayat tersebut adalah:
1. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah:119)
Maksudnya ialah; “Jadilah kalian semua bersama dengan orang-orang yang jujur dalam ucapan mereka, dalam perbuatan dan segala keadaan mereka. Mereka adalah orang-orang yang yang ucapannya jujur, perbuatannya dan keadaannya tiada lain kecuali kejujuran semata, bebas dari kemalasan, kebosanan, selamat dari tujuan-tujuan yang buruk, dan selalu memuat keikhlasan dan niat yang baik. (Tafsir Ibnu Sa’di hal 355)

2. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya.” (QS. al-Ahzab:24)
Yakni mereka memperoleh semua itu dengan sebab kejujuran mereka dalam ucapan, keadaan dan interaksi mereka dengan Allah subhanahu wata’ala, serta kesesuaian mereka antara lahir dengan batinnya.( Tafsir Ibnu Sa’di hal 661)

3. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Allah berfirman, “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS. al-Maidah:119)
Kejujuran mereka ketika di dunia akan memberikan manfaat kepada mereka di hari Kiamat. Dan tidak ada sesuatu yang bermanfaat bagi seorang hamba pada hari Kiamat serta tidak ada yang menyelamatkannya dari adzab Allah kecuali kejujuran.

4. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi (qadama shidqin) di sisi Rabb mereka.” (QS.Yunus:2)
Maksudnya yaitu keimanan yang benar (jujur), bahwasannya mereka kelak akan mendapatkan “qadama shidqin” yakni balasan yang tak terhingga, pahala yang amat banyak di sisi Rabb mereka dengan sebab apa yang dulu pernah mereka lakukan berupa amal shalih dan kebenaran (jujur). (Tafsir Ibnu Sa’di hal 661)

Ibnu Abbas z berkata, “Qadama shiqin” maknanya adalah rumah kejujuran (di surga, red),” dan diriwayatkan darinya juga, “Pahala yang baik karena perbuatan mereka dahulu (di dunia) yang baik.” (Al-Jami’ Liahkamil Qur’an 8/306)

5. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zumar:33)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kejujuran saja belum cukup bagimu, bahkan merupakan keharusan untuk membenarkan (mempercayai) orang-orang yang jujur. Amat banyak manusia yang jujur namun dia menolak untuk membenarkan (mempercayai) orang lain yang jujur, entah karena sombong atau karena hasad atau selain keduanya.” (Madarij as-Salikin 1/306)

6. Allah subhanahu wata’ala menyifati Diri-Nya dengan kejujuran dan kebenaran, sebagaimana firman-Nya artinya, “Katakanlah, “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. (QS. Ali Imran:95). Dan juga firman-Nya, “Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah.” (QS. An-Nisa’:87)

7. Allah subhanahu wata’ala menyebutkan tentang “qadama shidqin”, “lisana shidiqin”, “maq’ada shidqin” dan juga “mudkhala/mukhraja shidqin”. Penjelasannya adalah sebagai berikut,
1. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi (qadama shidqin) di sisi Rabb mereka”. (QS.Yunus:2)

Ibnu Abbas berkata radhiyallahu ‘anhu (sebagai-mana tersebut di atas), “Makna qadama shidqin ialah rumah kejujuran, disebabkan oleh perbuatan mereka yang telah lalu (di dunia).”

2. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi (lisana shidqin).” (QS. Maryam:50)

Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas i]radhiyallahu ‘anhu, bahwa makna firman Allah “lisana shidqin” adalah pujian-pujian yang baik.

3. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi (maq’adi shidqin) di sisi (Rabb) Yang Maha Berkuasa.” (QS. 54:54-55)
Makna “maq’adi shidqin” yaitu majlis (tempat duduk) yang haq yang tidak ada kesia-siaan dan ucapan kotor di dalamnya yakni surga. (Al-Jami’liahkam Al-Qur’an 17/150)

4. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Dan katakanlah, “Ya Rabb-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar.” (QS. Al-Israa’: 80)

Artinya adalah “Jadikan permulaan (mulai) dan pengakhiran (selesai) dari segala sesuatu adalah dalam rangka ketaatan kepada-Mu, dan dalam keridhaan-Mu.” Ini disebabkan karena memuat keikhlasan dan kesesuaian dengan apa yang diperintahkan. (Tafsir Ibnu Sa’di hal 465)

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Kelima macam ini (yang tersebut di atas, red) merupakan hakikat kejujuran, yaitu kebenaran yang berkesinambungan, terhubung dengan Allah subhanahu wata’ala dan sampai kepada-Nya, yaitu segala sesuatu yang sesuai dengan perintah Allah dan dilakukan karena-Nya berupa ucapan dan perbuatan.” Maka balasan dari semua itu di dunia dan di akhirat adalah (taufik untuk) masuk (mulai) perbuatan dengan benar dan keluar (selesai) darinya dengan benar, yaitu dari awal hingga akhirnya adalah haq, eksist, dan dengan petunjuk Allah serta dalam rangka mencari keridhaan-Nya. (Madarij as-Salikin 2/270). Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah “Al Jundi Al Muslim” No.121 Ramadhan 1420, oleh Syaikh Sulthan Fuad Al-Thubaisyi. bagian ke 1 dari 4 edisi.

Honesty musings

Here are some musings about honesty, we consider important to say that he become a way of life of people who are honest and behavior of believers. How quickness of us to contemplate the disgrace ourselves, and our lack of honesty in this case. Side of honesty that is so important has been the phenomenon of human weakness in this period, so that has been scattered among their opponents of being true (a lie). So I (the author) with a sense of pleasure preparing this paper, by permission of Allah – to be food for thought for all of us.

How wonderful phrase that describes about honesty, as the following verse:
Honesty is a must upon
Although you are burned by the heat of the promise
Seek ye pleasure of al-Maula
Woe to the person making the wrath of Allah and seek blessing of human

First reflections (About Definition)

Honesty is the opposite of lies and he has a sense of something as it fit with the facts. Among the words “rajulun shaduq (very honest)”, a deeper meaning than Sadiq (truthful). Al-mushaddiq the people who justify any words, is al-Siddiq is a man who continually justify their greeting people, and could also be someone who has always proved his words with deeds. In the Koran it is stated (on the mother of Prophet Isa), “And his mother was a” shiddiqah. ” (Al-Maidah: 75). The point is that people who always do right. (Arabic Lisanul 10/193-194)

Honesty is the symbol of Islam and the balance of faith, religious foundation, and a sign of perfection that people have this trait. He occupies a high position in religion and in world affairs. With honesty will disaggregated the believers and hypocrites, was elected the Host of the population of hell. With him a servant will be able to reach the position of al-Abrar (the good), and with it will get salvation from hellfire.

The Prophet sallallaahu ‘alaihi wasallam shadiqul attributed to al-amin (honest and trustworthy), and these properties have been known to the Quraish before he was sent as an apostle. Similarly, the Prophet Joseph ‘alaihis greetings also attributed to him, as Allah Subhanahu wata’ala,
(After the waitress was met with Joseph, he exclaimed), “Joseph, O man who is very trustworthy.” (QS.Yusuf: 46)

Caliph Abu Bakr radi ‘anhu also earned the nickname of this (al-Siddiq). This all shows the air of honesty is one of the most important life behavior of the apostles and their followers. Top notch and honest nature is the “ash-Shiddiqiyah” That subject to the apostles as a whole (inner and outer) and a perfect accompaniment to the senders sincerity to Him (Allah Subhanahu wata’ala).

Imam Ibn Kathir said, “Honest is a very admirable character, and therefore most of the Companions did not even try to lie either at the time of ignorance and after converting to Islam. Honesty is the hallmark of faith, as well as a lie is a characteristic of hypocrisy, then whoever honestly he will get lucky. (Tafseer Ibn Katheer 3 / 643)

Reflections into two (Al-Qur’an and Honesty)

The Qur’an mentions the nature of truth in many verses as well as advocate for honesty, and that it is the fruit of sincerity and piety. Among these verses are:
1. Word of Allah Subhanahu wata’ala means, “O ye who believe! Bertaqwalah to God, and be with people right.” (Surat At-Tauba: 119)
The point is: “Be all of you together with people who are honest in their words, in deeds and all their circumstances. They are the ones who are honest words, actions and circumstances nothing but honesty alone, free from laziness, boredom, survived the bad goals, and always includes sincerity and good intentions. (Tafseer Ibn Sa’di p. 355)

2. Word of Allah Subhanahu wata’ala means, “For God to reward the people that right because of his righteousness.” (Surah al-Ahzab: 24)
That is, they get it all with honesty because their speech, the state and their interaction with Allah Subhanahu wata’ala, as well as their suitability between born with their minds. (Tafseer Ibn Sa’di p. 661)

3. Word of Allah Subhanahu wata’ala means, “God said,” This is a day that benefit people correct their truth. “(Surah al-Maidah: 119)
Their honesty when the world will benefit them on the Day of Judgement. And there is not anything useful for a slave on the Day of Resurrection and none except Allaah saved him from honesty.

4. Word of Allah Subhanahu wata’ala means, “And announce to the believers that they have a high position (qadama shidqin) on the side of their Lord.” (QS.Yunus: 2)
That is the true faith (honest), Praise be to Allaah they will eventually get “qadama shidqin” ie, an infinite return, the reward is very much on the side with their Lord for what they once did in the form of good deeds and in truth (honest). (Tafseer Ibn Sa’di p. 661)

Z Ibn Abbas said, “Qadama shiqin” meaning is the home of honesty (in heaven, red), “and narrated from him also,” The reward is good because of what they once were (in the world) is good. “(Al-Jami ‘Liahkamil Qur’ an 8 / 306)

5. Word of Allah Subhanahu wata’ala meant “And the man who brought the truth (Muhammad) and justify it, they are the ones who fear Him.” (Surah Az-Zumar: 33)
Rahimahullah Imam Ibn al-Qayyim said, “Honesty is not enough for you, even a necessity to justify the (trust) people are honest. Quite a lot of people are honest, but he refused to justify the (trust) other people who are honest, either for pride or because envy, or in addition to both. ” (Madarij as-Salikin 1 / 306)

6. Allah Subhanahu wata’ala qualifies himself with honesty and truth, as his word means, “Say,” It is true (what He said) God. “(Surah Ali Imran: 95). And also his words,” And who is more correct word (it) rather than God. “(Surat an-Nisa ‘: 87)

7. Allah Subhanahu wata’ala mention of “qadama shidqin”, “lisana shidiqin”, “maq’ada shidqin” and also “mudkhala / mukhraja shidqin”. The explanation is as follows,
1. Word of Allah Subhanahu wata’ala means, “And announce to the believers that they have a high position (qadama shidqin) on the side of their Lord”. (QS.Yunus: 2)

Ibn Abbas said radi ‘anhu (as it is above), “The meaning of home is qadama shidqin honesty, caused by their acts in the past (the world).”

2. Word of Allah Subhanahu wata’ala means, “And We gave them some of Our Mercy and We made them said that good fruit again high (lisana shidqin).” (Surah Maryam: 50)

Also narrated from Ibn Abbas i] radi ‘anhu, that the meaning of the word of God “lisana shidqin” is a good praise.

3. Word of Allah Subhanahu wata’ala means, “Those who fear that in the parks and rivers, where the groove (maq’adi shidqin) on the side (Rabb) of the Most Mighty.” (Surah 54 :54-55)
Meaning “maq’adi shidqin” ie majlis (seating) that Haq is no vanity and dirty words in it that is heaven. (Al-Qur’an Jami’liahkam 17/150)

4. Word of Allah Subhanahu wata’ala means, “And say,” Oh my Rabb, I insert it into the right and remove it (again) I’m a right out. “(Surat Al-Israa ‘: 80)

The meaning is “Make the beginning (start) and termination (completion) of all things is in obedience to Thee, and in thy good pleasure.” This is because the load sincerity and conformity with what was ordered. (Tafseer Ibn Sa’di p. 465)

Imam Ibn al-Qayyim said, “All five of this kind (which is on top, red) is the essence of honesty, the truth is continuous, connected with Allah Subhanahu wata’ala and up to Him, to all things in accordance with the commandments of God and done because of Jesus’ sayings and deeds. “The response from those around the world and the hereafter is (taufik to) enter (start) works properly and is out (finish) it correctly, that is, from beginning to end is haq, eksist, and with the guidance of Allah and in order to seek His good pleasure. (Madarij as-Salikin 2 / 270). And Allaah knows best.

Sources: Magazine “Al-Jundi Al-Muslim” Ramadan 121 1420, by Sheikh Fuad Al-Thubaisyi sultan. part 1 of 4 editions.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: