Ekonomi Islam

“Hai  orang-orang  yang  beriman,  janganlah  kamu  saling  memakan  harta

sesamamu dengan  jalan yang bathil, kecuali dengan  jalan perniagaan yang berlaku dengan  suka  sama suka di antara kamu.” (QS An-Nisaa’: 29)

Sering kita mendengar pertentangan antara ekonom dengan ahli fikih tentang permasalahan ekonomi. Masing-masing berselisih pendapat apa itu ekonomi dan bagaimana ekonomi itu seharusnya dijalankan. Di sini saya bukan ahli ekonomi ataupun ahli fikih. Saya hanya mencoba meng-eksplore sebenarnya bagaimana hukum ekonomi Islam sebenarnya.

Berbicara tentang ekonomi harus dimulai dengan definisi ekonomi yaitu segala kegiatan (produksi, distribusi dan konsumsi) untuk memenuhi kebutuhan hidup (barang dan jasa) bagi manusia. Kebutuhan manusia pada dasarnya terbatas, hal ini selaras dengan terbatasnya sumber daya alam. Tapi yang menjadi masalah, keinginan manusia tidak terbatas. Keinginan yang tak terbatas inilah sesungguhnya yang berpotensi menimbulkan problema ekonomi.

Menurut Islam, keinginan manusia itu harus dibatasi dengan nilai-nilai syariah seperti halal dan haram, zuhud, qana’ah (pola hidup sederhana), dan shadaqah (memberi barang dan jasa). Sehingga dalam kehidupan yang islami, roda ekonomi berputar dengan stabil dan harmonis. Bila lambat tidak sampai mogok, bila cepat tidak ngebut. Yang lebih penting lagi tidak merusak tatanan alam dan kemanusiaan.

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.Sesungguhnya orang-orang yang beriman, beramal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, bagi mereka pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih.Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). [QS 2:275-281]

 

Sekaran mari kita ambil contoh salah satu system ekonomi yang cukup familiar yakni Ekonomi liberal. Ekonomi liberal adalah system ekonomi yang lahir dari prinsip fedalisme bangsa Eropa dalam nafsu meraup kekayaan atau mengeksploitasi sumber ekonomi. Bagaimana system ini dijalankan, adalah dengan “prinsip pasar bebas”. System ekonomi liberal sejatinya berorientasi pada pemenuhan keinginan manusia yang tidak terbatas itu. Roda ekonomi liberal berputar dengan keinginan (hawa nafsu) manusia sebagai motor penggeraknya, bukan kebutuhan manusia. Konsekwensinya (karena keinginan manusia tak kenal batas) roda ekonomi harus terus berputar kencang dan semakin kencang mengejar angka pertumbuhan, hingga suatu saat roda ekonomi pasti akan aus dan rusak dengan sendirinya. Maka terjadilah kerusakan di muka bumi.

Produksi dan konsumsi terus dipacu melahirkan konsumtifisme (budaya belanja di luar kebutuhan) yang terus dipupuk oleh para produsen untuk mencari keuntungan hingga ke tingkat hedonisme (asal senang). Anda tahu, sebagian besar peredaran uang di dunia ini berada dalam bisnis entertainment (hiburan) bahkan bursa seks dan bandar narkoba. Sangat kontras dengan masih besarnya populasi manusia yang hidup jauh di bawah garis kemiskinan dan kemelaratan. Industrialisasi mengganas menjadi industrialisme (eksploitasi sumber daya alam secara rakus demi kepentingan industri). Hal ini menuntut modal yang sangat besar sehingga melahirkan kapitalisme (penumpukan modal di tangan segelintir orang) yang menyuburkan sistim riba.

Berhubung industrialisme dan kapitalisme tidak juga cukup untuk terus menambah kencang laju pertumbuhan ekonomi, maka mereka pun menempuh jalur primitif imperialisme (penjajahan). Itulah makna “oil for food” yang secara eksplisit dicanangkan oleh PBB dan “war for oil” yang secara implisit digelar oleh Amerika. Kedua-duanya adalah kuda tunggangan Yahudi, sang sutradara ekonomi liberal!

Itulah sekedar ilustrasi singkat perbedaan antara ekonomi yang dilandasi dengan nilai-nilai Islam dan yang tidak. Baru pada tataran definisi ekonomi saja sudah tampak jelas adanya perbedaan visi dan misi serta konsekwensi-konsekwensinya.

Distribusi (penyaluran barang dan jasa) menurut Islam terdiri dari tiga mekanisme yakni pemberian, pertukaran dan peminjaman. Mekanisme “pemberian” harus berlangsung satu arah (dari si pemberi kepada yang diberi) tanpa si pemberi mengharap sesuatu dari yang diberi (hanya mengharap pahala dari Allah).

Demikian pula halnya mekanisme “peminjaman”, bedanya di sini tidak terjadi perubahan status kepemilikan. Pemberi pinjaman tidak boleh mengambil dan mengharap imbalan barang/jasa sekecil apapun dari orang yang diberi pinjaman, karena itulah yang dinamakan riba.

Kedua mekanisme distribusi tersebut (pemberian dan peminjaman) sangat digalakkan oleh Islam, sebagaimana Islam sangat menggalakkan jual-beli dan perdagangan (mekanisme “pertukaran”). Bagaimana mungkin seseorang bisa memberi dan meminjami kalau dia tidak memiliki kelebihan harta yang didapat lewat bekerja dan berniaga?

Jadi antara pertukaran, pemberian dan peminjaman berjalan secara seimbang dan harmonis. Sedang distribusi dalam ekonomi liberal lebih berorientasi pada bisnis perdagangan. Sampai-sampai lahan mekanisme pemberian dan peminjaman pun dicaplok dan dimasukkannya ke dalam mesin perdagangan untuk menghasilkan uang. Itulah sistim riba!

Makanya, saya tidak mau menyangkal bank sebagai institusi ekonomi yang lahir di era dominasi ekonomi liberal sebagai tuntutan kapitalisme. Apanya yang perlu dikagumi dari bank selain jumlahnya yang menjamur bak cendawan di musim hujan? Dan setiap saat bisa kollaps bagaikan dedaunan di musim gugur?

Dari ‘Amr bin Sa’d al-Anshary radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya dan aku akan menyampaikan kepada kalian sebuah berita maka peliharalah: tidaklah berkurang harta seorang hamba karena bersedekah, dan tidaklah seorang hamba dizalimi dengan suatu kezaliman melainkan Allah akan menambah kemuliaan baginya, dan tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta melainkan Allah akan membukakan baginya pintu kemiskinan. Dan aku akan menyampaikan sebuah berita kepada kalian maka jagalah: Sesungguhnya dunia itu untuk empat golongan. Seorang hamba yang diberi oleh Allah harta dan ilmu maka dia bertaqwa kepada Tuhannya dan menyambung silaturahmi dengan harta itu dan dia mengetahui haq-haq Allah dalam harta itu. Maka inilah kedudukan yang paling utama. Dan seorang hamba yang diberi oleh Allah ilmu dan tidak diberi harta maka dia benar niatnya dengan berkata: “Seandainya aku memiliki harta niscaya aku berbuat seperti perbuatan fulan (orang yang pertama tadi).” Maka dia dengan niatnya itu, pahala keduanya adalah sama. Dan seorang hamba yang diberi oleh Allah harta tapi tidak diberi ilmu maka dia menghabiskan hartanya tanpa ilmu. Dia tidak bertaqwa kepada Allah dan tidak menyambung tali silaturahmi dengannya dan tidak mengetahui haq Allah dalam harta itu. Maka inilah kedudukan yang terburuk. Dan seorang hamba yang tidak diberi harta maupun ilmu. Maka dia berkata: “Seandainya aku memiliki harta niscaya aku berbuat dengannya seperti perbuatan si fulan (orang ketiga tadi).” Maka dia dengan niatnya itu, dosanya sama dengan orang yang tadi.” [HR. Tirmidzi]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: