Definisi Riddah (murtad)

Riddah  (murtad)  adalah:  kembali  dari  diin  Islam kepada  kekafiran  atau  memutuskan  Islam  dengan

kekafiran. Alloh ta’aalaa berfirman:

 

Dan barangsiapa diantara kalian yang murtad dari diinnya lalu diamati dalam keadaan kafir maka amalan-amalan mereka sia-sia di dunia dan akherat. Dan mereka adalah penghuni naar (neraka) mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Baqoroh: 217).

 

Sedangkan  al murtad  adalah  orang  yang  kafir setelah  dia  Islam  baik  dengan  ucapan  atau  dengan

perbuatan  atau  dengan  keyakinan  atau  dengan keraguan. Dan  definisi-definisi  dari  empat  madzhab  dan lainnya  tentang  riddah  dan  murtad  semuanya  berkisar pada  arti  di  atas.  Hal  ini  karena kekafiran  itu  kadang terjadi karena perbuatan lisan (yaitu ucapan) atau karena perbuatan  anggota  badan  (yaitu  perbuatan)  atau perbuatan  hati  (yaitu  keyakinan  atau  keraguan).  (Lihat Kasysyaaful  Qonnaa’,  karangan  Syaikh Manshuur  Al Bahuutiy VI/167-168). Dan Abu Bakar Al Hishniy Asy Syaafi’iy  dalam  buku  Kifaayatul  Akhyaar  berkata: “Definisi  riddah  menurut  syar’iy  adalah  kembali  dari Islam kepada kekafiran dan memutuskan  Islam. Hal  itu terjadi  kadang  dengan  lisan  kadang  dengan  perbuatan dan kadang dengan keyakinan.

 

Dan  3  macam  tersebut  masing-masing  terdapat permasalahan  yang  hampir-hampir  tidak  terbatas.”

(Kifaayatul  Akhyaar  II/123).  Dan  Syaikh  Hamad  bin ‘Atiiq  An  Najdiy  rh  (wafat  th.  1301) mengatakan: “Bahwa  sesungguhnya  para  ulama  sunnah  dan  hadits mereka mengatakan bahwa sesungguhnya Al Murtad itu adalah  orang  yang  kafir  setelah  dia  Islam  baik  dengan ucapan  atau  perbuatan  atau  keyakinan.  Mereka menetapkan bahwa orang yang mengucapkan kata-kata

kekafiran  dia  kafir  meskipun  dia  tidak  meyakini  kata-kata  tersebut dan  tidak pula melakukannya  apabila  dia tidak  mukroh  (dipaksa).  Dan  begitu  pula  apabila  dia melakukan perbuatan kufur dia kafir meskipun dia tidak meyakininya  dan  tidak  pula  mengucapkannya.  Dan demikian  pula  apabila  dadanya  lapang  terhadap kekafiran  artinya  dia  membuka  dan  melebarkan dadanya,  meskipun  dia  tidak  mengucapkannya  dan tidak  pula  melakukannya.  Dan  ini  dikenal  secara  jelas dari  buku-buku  mereka.  Dan  barangsiapa  bergelut dengan  ilmu  pasti  dia  telah  mendengar  sebagiannya.“ (Ad  Difaa’  ‘An  Ahlis  Sunnah  Wal  Ittibaa’  karangan Syaikh Hamad bin  ‘Atiiq  cet. Daarul Qur-aanul kariim 1400 H hal. 30).

 

Lalu  para  ‘ulama membatasi  penyebab  kekafiran pada 3 hal  (ucapan atau perbuatan atau keyakinan) dan sebagian  menambahnya  (atau  keraguan)  hal  ini  untuk membedakan  antara  keraguan  dan  keyakinan  padahal keduanya  termasuk  perbuatan  hati  akan  tetapi keyakinan  adalah  sesuatu  yang  menancap  kuat sedangkan  keraguan  adalah  sesuatu  yang  tidak menancap dengan kuat. Karena sesuatu yang diragukan itu  sama  posisinya  dengan  kebalikannya.  Maka barangsiapa  kedustaannya  terhadap  Rosul  menancap kuat  dalam  hatinya  berarti  kufru  i’tiqood  (kafir  karena keyakinan)  dan  barangsiapa  yang  ragu  antara mempercayai  dan mendustakan  Rosul maka  ini  berarti kufru  syakk  (kafir  karena  keraguan).  Alloh  Ta’aalaa berfirman :

 

ﻥﻭﺩﺩﺮﺘﻳﻢﻬﺒﻳﺭﰲﻢﻬﻓﻢﻮﻠﻗﺖﺑﺎﺗﺭﺍﻭ

 

Dan hati mereka ragu maka mereka terombang-ambing dalam keraguan mereka. (QS. At Taubah: 45).

 

Dan  Di  Sini  Ada  Sebuah  Peringatan  Penting:

yaitu bahwasanya definisi murtad di atas adalah definisi murtad yang sebenarnya. Adapun hukum di dunia yang ditetapikan  berdasarkan  yang  dhohir,  seseorang  tidak divonis  kafir  kecuali  mengucapkan  ucapan  kufur  atau melakukan  perbuatan  kufur.  Karena  ucapan  dan perbuatan  itulah   yang nampak pada manusia. Adapun keyakinan  atau  keraguan  tempatnya  adalah  hati sehingga  tidak  bisa menjatuhkan  hukum  di  dunia berdasarkan  keduanya,  selama  apa  yang  di  dalam  hati tersebut  tidak  dinampakkan  dalam  ucapan  atau perbuatannya.  Karena  Rosul  SAW  bersabda  –  dalam

hadits shohih:

 

ﺱﺎﻨﻟﺍﺏﻮﻠﻗﻦﻋﺐﻘﻧﺃﻥﺃﺮﻣﻭﺃﱂﱐﺇ

 

Sesungguhnya aku tidak disuruh untuk membelah hati manusia. (Hadits).

 

Dan di dalam hadits shohih juga disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda kepada Usaamah:

 

ﻘﻘﺷﻼﻓﺃ ﻪﺒﻠﻗﻦﻋﺖ

 

Kenapa tidak kamu belah saja hatinya. (Hadits).

 

Maka barang siapa melakukan kekafiran dengan hatinya (dengan  keyakinan  atau  keraguan)  dan  tidak  dia nampakkan dengan ucapan atau perbuatannya, maka  ia muslim  menurut  hukum  di  dunia  akan  tetapi  pada hakekatnya dia kafir di  sisi Alloh dan dia  adalah orang munafiq  dengan  nifaq  akbar  (kemunafiqan  besar)  yang menyembunyikan kekafirannya.  Ibnul Qoyyim berkata:

“Dan  hukum-hukum  tersebut  tidak  dibuktikan  hanya berdasarkan apa yang berada dalam hati tanpa ada dasar dari  perbuatan  atau  perkataan…”(A’laamul Muwaqqi’iin III/117).  Dalam  hal  ini  tidak  ada perselisihan  tentang  hukum  di  dunia yang  dibuktikan berdasarkan yang dhohir.

 

Dalam  hal  ini  Imam  Ath  Thohaawiy  rh mengatakan  dalam  Al  Aqidah  Ath  Thohaawiyyah

tentang  ahlul  qiblah  (orang  Islam):  “Kami  tidak memberikan kesaksian tentang mereka dengan kekafiran atau  kesyirikan  atau  kemunafiqan  selama mereka  tidak menampakkannya, dan  kami menyerahkan hati mereka kepada Alloh.” Pensyarahnya mengatakan: “Karena kita diperintahkan  untuk  menetapkan  hukum  berdasarkan yang  dhohir,  dan  kita  dilarang  untuk  mengikuti prasangka  dan  apa-apa  yang  kita  tidak  mengetahui ilmunya” (Syarhul ‘Aqiidah Ath Thohaawiyyah hal 427 cetakan Al Maktab Al Islaamiy 1403 H ). Kesimpulannya  :  sesungguhnya  menetapkan hukum murtad  — di dunia  —  itu hanyalah berdasakan ucapan  mukaffir  (orang  yang  menyebabkan  kafir)  atau

perbuatan mukaffir.

 

Ibnu  Taimiyyah  rh  berkata:  “Orang  murtad  itu adalah  orang  yang  membatalkan  Islam  yang  berupa

perkataan  atau  perbuatan  yang  tidak  mungkin berkumpul dengan Islam” (Ash Shoorimul Masluul hal.

459)  Ibnu Taimiyyah  juga berkata: “Intinya orang yang mengucapkan  atau  melakukan  kekafiran  ia  telah  kafir, meskipun  dia  tidak  bermaksud  untuk  kafir,  karena  tak ada  yang  bermaksud  untuk  kafir  kecuali  orang dikehendaki Alloh  saja.”  (Ash  Shoorimul Masluul  hal. 177-178).

 

Sumber : Kitab “Iman & Kufur “ karya Syaikh ‘Abdul Qoodir Bin ‘Abdul ‘Aziiz

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: