Islam Itu Realistis

Syariat Islam itu utopia, cita-cita atau realita?

Pertanyaan tersebut saya rasa perlu diexplore mengingat masih banyaknya umat muslim yang mempertanyakan tentang penegakan syariat Islam. Banyak dari kita yang ragu apa iya Syariat Islam itu bisa tegak bahkan ada juga yang merasa mustahil  jika syariat Islam itu tegak.

Islam adalah agama realistis. Cita-cita penegakan syariat Islam atau khilafah Islam pun adalah hal realistis. Saya justru tidak habis pikir bila masih ada orang yang menganggap mustahil berdirinya kembali khilafah.. Keterlaluan dangkal dan piciknya pandangan mereka. Apakah visi mereka terkena rabun jauh sehingga hanya mampu menjangkau satu abad atau satu generasi atau malah hanya satu dekade ke depan? Atau barangkali ada bagusnya kita bersangka baik –atau buruk?– bahwa mereka itu sebetulnya hanya berpura-pura menutup dan memicingkan mata; sebagai bentuk ghazwul fikri untuk menghapus cita-cita –atau katakanlah utopia– khilafah itu dari benak kaum muslimin.

Sebenarnya saya kurang suka dengan statement imposible dan utopia yang merujuk pada perjuangan Islam, karna berkesan merendahkan atau bahkan hendak mematahkan semangat. Namun jika dikaji secara arti kebahasaan mungkin statement tersebut tidak melulu bisa dipersalahkan.. Harap dibedakan antara impossible (mustahil) dan utopia (khayalan). Bila suatu saat seorang bocah ingusan yang kakinya lumpuh dan matanya buta tiba-tiba berceloteh: “saya ingin jadi presiden”, tidak salah bila semua orang yang mendengarnya berkata: “dia sedang berkhayal”. Ya, betul. Melihat kondisinya, pantas kalau cita-citanya itu dianggap utopia. Tapi adalah keliru bila disebut mustahil (impossible). Apalagi mengingat fakta telah terjadi bahwa Ahmad Yasin, seorang yang lumpuh, pernah memimpin Hamas dan Gus Dur, seorang yang buta pernah jadi presiden. Jadi utopia bukan berarti tidak mungkin terjadi. Lain halnya bila seorang manusia bercita-cita jadi nabi atau malaikat maka itu bukan lagi “utopia” melainkan “impossible”.

Sebuah “cita-cita” dikatakan “utopia” bila dilihat antara harapan dan kenyataan terbentang jarak yang sangat jauh sehingga seolah-olah mustahil bisa terwujud. Sampai-sampai orang sering keliru menganggap “utopia” sama dengan “impossible”. Itulah sebabnya ketika ada yang berkata berkata: “khilafah tidak realistis”, sebetulnya dari segi istilah (realistis) ia betul. Tapi karena yang dia maksud adalah “tidak mungkin terwujud” maka saya katakan saja: “siapa bilang khilafah tidak realistis?” Padahal ungkapan “khilafah tidak realistis” untuk saat ini (menurut kalkulasi manusiawi) adalah betul. Karena kenyataan (realitas) saat ini menunjukkan sangat jauh dari kemungkinan terciptanya khilafah. Tapi sekali lagi salah besar bila istilah “utopia” dan ungkapan “tidak realistis” disamakan dengan “mustahil” (impossible) atau tidak mungkin terwujud.

Nah, bila kita sudah memahamai baik-baik perbedaan antara “utopia” dan “impossible” tentunya tidak pada tempatnya lagi untuk berdebat-kusir tentang “khilafah itu utopia”. Pernyataan itu bisa betul bila diartikan “amat-sangat sulit terwujud” atau “nyaris tidak mungkin terwujud”. Tapi pernyataan itu nyata salahnya bila diartikan “tidak mungkin terwujud”. Mana mungkin kita mengatakan “khilafah tidak akan terwujud” sedang ia sudah menjadi fakta yang pernah terjadi. Itu secara akal (permainan bahasa).

Syariat Islam dan Khilafah bagi kaum muslimin –sekarang ini– memang merupakan impian indah yang tidak mustahil –bahkan pasti– terwujud kelak, tapi merupakan mimpi buruk bagi kaum kuffar, zindiq dan munafiq. Segala daya dan kekuatan mereka kerahkan untuk membendung geliat ummat Islam (saya tidak berbicara tentang HT dan saya bukan HT) ke arah itu. Saya kira mereka yang sedikit bervisi tajam, bisa membaca kegelisahan, kekuatiran bahkan mungkin sudah sampai pada tingkat kepanikan mereka menghadapi kemungkinan berulangnya kembali sejarah khilafah.

Cita-cita berarti suatu target yang secara realitas mampu diraih. Seperti seorang anak yang rajin belajar bercita-cita kelak jadi doktor. Utopia seperti yang sudah saya jelaskan merupakan khayalan atau  suatu keinginan yang secara realitas “nyaris” (99%) tidak mungkin tercapai. Misalnya Indonesia berencana mencaplok Amerika dalam waktu dekat ini. Sedangkan mustahil berarti sesuatu yang memang tidak mungkin terjadi. Contohnya Ulil ingin hidup seribu tahun lagi. Bagaimana dengan khilafah? Khilafah sudah pernah terjadi jadi jelas bisa dan bukan mustahil. Persoalannya tinggallah utopia ataukah cita-cita.

Khilafah adalah utopia bila realitas eksternal dan internal ummat Islam –secara manusiawi– belum memungkinkan. Dan dia beralih menjadi sebuah cita-cita bila kualitas dan kuantitas keberagamaan dan keduniawian ummat Islam telah mencapai taraf tertentu. Nah, berbicara tentang realitas (situasi dan kondisi), hanya orang dungu yang menyangka realitas tidak bisa berubah secara ekstrim, baik dalam jangka pendek apalagi panjang.

Saya jadi teringat dengan ungkapan Albert Einstein ketika –tidak lama setelah Nagasaki dan Hiroshima dilumat bom atom dalam Perang Dunia Kedua– ditanya: bisakah anda memberi gambaran kira-kira bagaimana kemampuan persenjataan bila terjadi PD III? Dengan mata tajam menerawang dia menjawab: saya tidak mampu menerangkan bagaimana model senjata PD III; tapi agaknya saya bisa membayangkan senjata apa yang dipakai di PD IV. Sedikit heran, si penanya tak sabaran: senjata apa itu? Einstein menjawab dengan ketus dan serius: KAPAK.

Apa maksudnya? Bila PD III benar-benar meletus maka –menurut prediksi Einstein sang arsitek bom atom– jarum sejarah ummat manusia akan berputar kembali ke zaman batu (sebut saja zaman neo-batu). Infrastruktur teknologi dan peradaban yang dibangun dan dibangga-banggakan sekian lama, hancur tidak bersisa. Sehingga bila terjadi PD IV (mungkin di zaman neo-perunggu) tidak bisa lain, orang bersenjatakan kapak perang. Saya tidak ingin ikut-ikutan berprediksi futuristik bahwa boleh jadi peristiwa Dajjal dipenggal lehernya oleh Nabi Isa (seperti informasi Nabi) terjadi di zaman itu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa perubahan realitas secara spektakuler adalah hal yang lumrah dan biasa, bisa terjadi setiap saat. Jangan terpaku dan termangu dengan kebekuan dan kebuntuan masa kini.

Bayangan bakal terjadinya perang dunia ketiga dengan model senjata pemusnah (bukan lagi massal tapi) global merupakan horor yang sangat menakutkan negara-negara “maju” yang justru mereka sendiri yang membuat dan menyimpannya. Lihatlah betapa sinting dan rapuhnya peradaban yang katanya maju ini. Lebih bodoh dan goblok lagi karena mereka pun memandang geliat kebangkitan khilafah sebagai teror yang tidak kalah menakutkannya. Padahal khilafah merupakan institusi kepemimpinan ummat Islam yang berlandaskan dan berpedoman dengan aqidah dan syariat Islam itulah yang akan mengarahkan dunia menuju peradaban yang tidak hanya mengusung HAM (Hak Asasi Manusia) tapi terlebih lagi menjunjung tinggi HAT (Hak Asasi Tuhan).

Sekali lagi, utopia, cita-cita atau realita? Ketiga-tiganya benar pada ruang dan waktunya masing-masing. Tugas kita sekarang adalah berusaha berislam dengan baik sesuai Sunnah Nabi dan Sunnah al-Khulafa’ ar-Rasyidun serta orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat agar khilafah berubah dari utopia menjadi cita-cita dan seterusnya menjadi realita. Kemungkinan besar kita tidak ikut menyaksikan terwujudnya khilafah itu, tapi yang penting adalah kita sudah berada dalam barisan panjang jama’ah muslimin yang ikut memimpikan, mewacanakan, mengarahkan, merintis hingga membidani lahirnya khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah di akhir zaman kelak.

Ada sebuah oborolan anekdot tentang penegakan syariat Islam antara Ucup dan Udin..

Udin : Betulkah dalam hukum Islam, pencuri dipotong tangannya?
Ucup: NA’AM (iya)

Udin : Betulkah suami atau isteri yang berselingkuh dirajam?
Ucup: SHAH (betul)

Udin : Betulkah pembunuh dihukum mati?
Ucup: BALAA (tentu)

Udin : Kalau begitu dimana-mana akan kita lihat orang-orang berjalan nggak punya tangan, anak-anak kehilangan ayah atau ibu karena dirajam dan setiap hari ada orang dieksekusi mati.

Ucup: Koq gitu?

Udin : Setiap hari kan banyak orang yang mencuri, selingkuh dan membunuh.
Ucup : Sekarang kan belum berlaku hukum Islam, mbak.

Udin: :-O😦😐🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: