Apa itu Islam?

Untuk bisa memahami agama dengan benar dan jujur, kita harus mengingat kembali apa itu agama. Islam, menurut Islam itu sendiri, adalah Islam adalah merupakan dien yang telah ditetapkan oleh Allah berdasarkan kitab-Nya yang diturunkan melalui Rasul-Nya untuk keselamatan manusia baik baik di dunia maupun di akhirat.

 

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang

dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (QS. 10:25)

 

Kedengarannya klise dan sederhana. Tapi untuk mengimani fakta tersebut dan menerima segala konsekwensinya bukanlah perkara yang enteng dan sepele. Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, tidak ada jalan lain selain “membaca” alam semesta sebagai ayat-ayat kauniyyah (ciptaan Allah) dan membaca al-Quran dan as-Sunnah sebagai ayat-ayat tanziliyyah (ajaran Allah). Lewat pembacaan dan perenungan yang intens itulah ada orang yang kemudian mengimani Islam, ada orang yang ragu-ragu dan ada pula orang yang mengingkari Islam.

Orang yang mengimani Islam sebagai ajaran yang bersumber dari Tuhan Pencipta alam, dengan iman yang mantap, pastilah akan menerima seluruh ajaran Islam tanpa ragu dan siap diatur dengannya. Betapa tidak! Ia tahu persis bagaimana Kesempurnaan Tuhan dan ia sadar betul betapa keterbatasan dirinya, kelemahan pikiran dan perasaannya yang sering keliru dan tertipu. Maka apalagi yang perlu diragukan dan dikritisi, yang perlu diragukan dan dikritisi adalah pikiran dan perasaan kita. Persoalannya setelah kita meyakini itu, tinggal bagaimana mempelajari Islam yang diwariskan oleh Nabi dari generasi ke generasi lewat para ulama, bukan lewat para orientalis.

Untuk berislam, harus dimulai dan diawali dengan rukun Islam pertama yakni syahadat sebagai suatu pengakuan keimanan sekaligus pernyataan kesiapan untuk mengabdi hanya kepada Allah Rabbul’alamin dengan menjalankan ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya, Muhammad SAW. Kenapa demikian? Karena persoalan beragama bukanlah persoalan main-main dan coba-coba, pertimbangan untung-rugi duniawi atau logis-tidak logis (menurut pikiran kita). Urusan beragama adalah urusan pengabdian, ketundukan dan penyerahan diri yang bulat kepada Allah. Mau diapakan kita oleh Allah, “sami’na wa atha’na”, itulah makna pengabdian.

Kasarnya, jangankan syariah Allah itu baik dan benar, salah dan buruk (maha suci Allah dari kesalahan dan kezaliman) sekalipun, mesti kita laksanakan. Karena kita ini hamba-Nya yang tidak berkuasa sedikit pun untuk menolak Keputusan-Nya. Persis seperti ketaatan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang rela menyembelih puteranya (sebelum kemudian diganti dengan domba) karena perintah Allah. Beliau tidak pernah berpikir sedikitpun untuk mempertanyakan perintah Allah yang terkesan keliru dan kejam itu. Nah, bagaimana mungkin kita bisa menjalankan pengabdian yang sedemikian itu kalau belum bersyahadat?

Orang yang tidak memulai keislamannya dengan syahadat sebagai starting point, maka dalam perjalanan keislamannya akan mengalami ambiguitas, serba salah. Orang yang sejak awal, tidak melangkah dengan penuh keyakinan dan kepastian maka dalam perjalanannya nanti akan selalu penuh dengan kesangsian, sikap kritis bahkan penolakan. Masalahnya, meniti hidup di atas Islam selalu penuh dengan cobaan, tantangan, perangkap dan jebakan. Dunia itu sendiri adalah ujian dan godaan, belum lagi tipu daya syaitan yang sangat lihai dan halus serta makar kaum kuffar yang sangat licik dan brutal.

Pendeknya, sangat riskan dan rawan kita terjatuh dan terjerambab ke dalam kekufuran dan kesesatan manakala kita mencoba-coba berislam tanpa diawali dengan syahadat. Terlebih lagi, yang lebih penting, keislaman tanpa syahadat yang benar, bukanlah suatu pengabdian dan penyerahan diri secara bulat kepada Tuhan. Syahadat memberi isi dan materi pengabdian yaitu ikhlas menjalankan perintah Allah menurut contoh tuntunan Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bila ada orang di luar Islam yang bersikap skeptis, kritis bahkan sinis terhadap Islam, kita sudah maklum. Itulah pilihan dan konsekwensi ketidakpercayaannya terhadap Islam sebagaimana yang dijelaskan di atas. Yang runyam bila ada orang-orang yang lisannya mendaku muslim dan beriman, lantas melontarkan penolakan terhadap Islam dengan 1001 alasan yang cukup halus dan lihai.

Diantara alasannya bahwa Islam yang dipahami dan dipraktekkan selama ini adalah Islam menurut pemikiran dan penafsiran manusia. Jadi bisa dikritisi, diutak-utik, diperbaharui bahkan dikoreksi. Jawabannya mudah saja. Apakah anda lebih percaya dan tenteram dengan pikiran dan penafsiran anda dan orang-orang semacam anda sendiri? Mengapa anda lebih memilih penafsiran orang-orang yang miskin iman dan faqir taqwa, ketimbang para ulama yang berpegang dengan dalil-dalil yang shahih, memiliki metodologi ilmiah islamiah yang konsisten, sangat hati-hati dalam berfatwa, dan memiliki mekanisme kontrol dan koreksi terhadap sesama ahli ilmu?
Diantara alasan mereka lagi adalah pemahaman dan pengamalan para sahabat dan ulama salaf itu cocok untuk kondisi dan situasi ketika itu. Sedang sejarah dan peradaban manusia terus berubah dan berkembang, diperlukan penafsiran dan pembaharuan yang terus-menerus sesuai dengan zamannya. Jawabannya pun sebenarnya mudah saja.

Astrologi, feng shui, paranormal, dll sudah ada sejak zaman dahulu kala, mengapa manusia modern yang katanya serba rasional masih mempelajari dan menggunakannya? Lantas, apakah konsep tawakkal dan doa kepada Allah Rabbul’alamin sudah tidak relevan? Pakai otak dong!

Mode pakaian yang serba minim ternyata sekarang lagi trend, bahkan di barat sana tidak sedikit komunitas telanjang alias nudis. Manakah yang lebih beradab, budaya telanjang atau budaya berpakaian rapi seperti jilbab? Kemana harga diri manusia modern?

Barter, mungkin adalah sistem perdagangan yang paling antik. Apakah sudah tidak berlaku sekarang? Bahkan institusi pemerintah pun masih menggunakannya. Pemerintah Indonesia dan Rusia pernah barter. Kenapa banyak orang sok tahu yang melecehkan gagasan penggunaan mata uang emas dan perak sebagai alat tukar yang lebih islami?

Model pemerintahan dengan sistem kerajaan (kepala negara dipilih dari garis keturunan) masih berlaku hingga sekarang. Bahkan model penguasa imperialis yang ingin menjajah dan menjarah dunia masih mewarnai sepak terjang negara sekelas Amerika. Dari sudut pandang mana pula para islamphobi menertawakan sistem khilafah sebagai sistem pemerintahan alternatif untuk peradaban akhir zaman?

Yahudi; suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, anda setuju atau tidak, adalah sebuah agama ultra rasialis, super eksklusif. Salah satu kepercayaan dasar mereka (termaktub dalam protokolat zionis) adalah bahwa bangsa Yahudi adalah manusia pilihan Tuhan, selain mereka adalah binatang tunggangan Yahudi. Ideologi itulah yang melecut dan memotivasi mereka untuk mengobok-obok dan mengangkangi dunia dengan kejeniusan mereka. Itulah yang terjadi hingga sekarang!

Nah, apa salahnya Islam memproklamirkan diri kepada ummat manusia sebagai satu-satunya agama samawi terakhir yang disyariatkan oleh Tuhan?

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS. 3:19)

Siapa yang masuk Islam akan masuk surga sedang yang menolak Islam padahal sudah mendengar dakwah Islam, akan menjadi penghuni neraka. Kendati demikian, mereka tetap dipergauli dengan baik di dunia (toleransi) selama mereka tidak memusuhi ummat Islam. Mengapa ummat Islam dipaksa-paksa menerima paham pluralisme yang kufur itu?

Coba lihat! Kita tidak bisa berkesimpulan lain selain bahwa orang-orang yang meminta agar ajaran Islam ditafsirkan berbeda dari apa yang dipahami dan diamalkan secara murni dan lurus dari al-Quran dan as-Sunnah adalah orang-orang yang jahil dan fasiq. Mereka lemah iman (kalau bukan tidak beriman), tidak kuasa melawan godaan dunia dan hawa nafsu, apalagi untuk menentang musuh-musuh Islam! Akhirnya mencari celah dan helah untuk meninggalkan dan menanggalkan Islam.

Kesimpulannya, berislam dengan baik dan benar membutuhkan kerja keras, belajar serius, kesungguhan, mujahadah dan jihad serta sikap realistis. Semua itu kemudian dirangkum sebagai rukun Islam dan rukun Iman.

 

Rukun Islam:

 

1. Syahadat, pengakuan akan adanya Zat Yang Maha dan Rasul-rasulnya sebagai orang yang dipercaya oleh Allah untuk menerima dan menyampaikan Risalahnya.

2. Shalat, tanda penyerahan, penyembahan dan penghambaan kepada Allah.

3. Puasa, mencegah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah, dan membina diri agar dapat berjalan sesuai dengan aturan dari Allah.

4. Zakat, membina kesejahteraan masyarakat sebagai kepedulian manusia satu terhadap manusia lain yang kekurangan.

5. Haji, bagi yang telah bertaqwa, melakukan haji sebagai simbol adanya hujjah atas dirinya, bagi dari dirinya maupun dari Allah, bahwa sebagai manusia dia betul-betul menerima tugas dan menjalankan hidup sebagai khalifah dan hamba.

 

Rukun Iman:

 

1. Iman kepada Yang Maha Ghaib, yaitu Allah Rabb semesta alam.

2. Iman kepada Malaikat-malaikatNya, sebagai perangkat Allah dalam menjalankan tugasNya sebagai Rabb, Chalik dan Muluk. Salah satu tugas malaiat adalah membawa wahyu yang diturunkan Allah.

3. Iman kepada Kitab-kitabNya, untuk digunakan sebagi pedoman dalam menjalani tugas seorang hamba dan khalifah.

4. Iman kepada Rasul-rasulnya, di dalam menyampaikan aturan/hukumnya Allah tidak berbicara langsung kepada manusia tetapi, melalui utusannya baik itu Malaikat maupun manusia.

 

Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (QS. 42:51)

 

Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia: sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. 22:75)

 

5. Iman kepada hari kemudian, bahwa setelah kehidupan di dunia ini masih ada kehidupan lain yang harus kita jalani.

 

6. Iman kepada takdir, Allah telah menetapkan segala sesuatu sesuai dengan kehendakNya.

Sedangkan “berislam” cara liberal atau apalah namanya itu adalah mencari celah dan helah untuk meninggalkan dan menanggalkan ajaran Islam yang cukup dilakukan dengan santai atau bisa juga diistilahkan ber-Islam yang “semau gue”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: